Sabtu, 10 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkpontianak.orgbrkpontianak.org
brkpontianak.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anak Kos Sering Salah Paham Soal Keluarga, Ini 5 K...

Anak Kos Sering Salah Paham Soal Keluarga, Ini 5 Kesalahan Kita

Sebagai anak perantau, kita sering nggak sadar kalau cara kita menjaga hubungan keluarga justru bikin jarak makin lebar.

Anak Kos Sering Salah Paham Soal Keluarga, Ini 5 Kesalahan Kita

Gue nggak tau kamu gimana, tapi pas pertama kali ngekos dulu, gue ngerasa bebas banget. Nggak ada yang nanya "udah makan belum?", nggak ada yang ngomel karena kamar berantakan. Akhirnya bisa hidup sesuai maunya sendiri. Tapi beberapa bulan kemudian, gue sadar ada yang aneh. Telepon dari ibu makin jarang gue angkat. Chat dari bapak cuma gue baca, nggak gue bales. Dan entah kenapa, tiap pulang kampung, rasanya kayak ada tembok tipis antara gue dan orang tua gue.

Nah, kalau kamu ngerasa hal yang sama, mungkin kita kena kesalahan yang sama. Ini bukan soal kita jahat atau nggak sayang keluarga. Ini lebih soal kita nggak siap menghadapi dinamika baru sebagai anak perantau.

1. Nganggep "Nanti Aja Balesnya" Itu Nggak Masalah

Ini kesalahan paling umum dan paling sering dianggap sepele. Pesan dari ibu masuk jam 7 pagi, isinya cuma "Nak, udah sarapan?" dan kita baca sambil setengah tidur. Kita pikir, "Nanti aja bales pas udah bangun beneran." Eh, ternyata nanti itu nggak pernah datang. Besoknya udah ada chat baru lagi, dan yang lama tenggelam di bawah.

Masalahnya bukan di satu chat yang nggak dibales. Masalahnya adalah pola. Kalau ini terjadi terus-terusan selama berbulan-bulan, orang tua kita mulai merasa nggak penting. Mereka nggak akan ngomong langsung sih. Tapi kamu bisa lihat dari cara mereka nelpon yang makin jarang, atau chat yang makin singkat.

Orang tua kita nggak butuh jawaban panjang. Mereka cuma butuh tau kita masih ada dan masih peduli.

Solusinya simpel banget: bales sebisanya, secepatnya. Nggak perlu jawaban berbunga-bunga. "Udah bu, tadi sarapan roti" aja udah cukup bikin ibu senyum-senyum sendiri. Kalau memang lagi sibuk banget, minimal kasih reaksi emoji atau bilang "nanti aku telpon ya bu". Setidaknya mereka tau kamu baca.

2. Cuma Ngabarin Kalau Butuh Duit

Ini klasik banget dan hampir semua anak kos pernah ngelakuin, termasuk gue. Chat ke orang tua isinya cuma tiga hal: minta uang, minta uang, dan laporan nilai ujian. Nggak heran kalau orang tua akhirnya merasa hubungan kita transaksional.

Coba deh refleksi sebentar. Kapan terakhir kali kamu cerita hal random ke orang tua? Misalnya soal teman kos yang masaknya gosong, atau dosen yang ngasih tugas absurd? Kalau jawabannya "udah lama banget" atau "nggak pernah", berarti ada yang perlu diperbaiki.

Orang tua itu pengen tau kehidupan kita. Bukan cuma yang penting-penting, tapi juga yang receh-receh. Cerita soal kamu jatuh dari motor pas mau ke warung, atau soal kucing jalanan yang tiap hari nungguin kamu di depan kos — hal-hal kayak gini yang bikin mereka ngerasa masih jadi bagian dari hidup kamu.

Cara mulai tanpa kelihatan aneh

Kalau udah lama nggak cerita random, jangan langsung kirim paragraf panjang. Mulai dari hal kecil aja. Foto makanan yang kamu masak, misalnya. Atau kirim voice note singkat pas lagi jalan pulang kuliah. Lama-lama kebiasaan ini jadi natural dan orang tua bakal ngerasa lebih dekat.

3. Ngerasa "Nanti Kalau Udah Sukses Baru Bisa Bahagiain Orang Tua"

Ini jebakan mental yang sering banget dialami mahasiswa perantau. Kita ngerasa harus lulus cepat, dapat kerja bagus, baru bisa bikin orang tua bangga. Sementara itu, kita nunda komunikasi, nunda pulang, nunda semuanya sampai "waktunya tepat".

Padahal orang tua kita nggak nunggu kita sukses. Mereka nunggu kita pulang. Mereka nunggu denger suara kita. Kesuksesan itu bonus, bukan syarat buat mereka sayang sama kita.

Gue pernah denger cerita dari teman gue yang nunda pulang kampung selama dua tahun karena malu belum lulus. Pas akhirnya pulang, ibunya nangis bukan karena dia belum lulus — tapi karena dia nggak pulang selama dua tahun. Itu yang bikin dia nyesel sampai sekarang.

4. Lupa Bahwa Orang Tua Juga Sedang Beradaptasi

Kita sibuk ngurusin diri sendiri di kota rantau. Kuliah, organisasi, kerja part-time, pacar, pertemanan — semua butuh energi. Tapi kita sering lupa bahwa di rumah, orang tua kita juga sedang beradaptasi dengan rumah yang lebih sepi.

Ibu yang dulu sibuk masak buat kamu, sekarang masaknya dikurangi. Bapak yang dulu nungguin kamu pulang sekolah, sekarang nungguin telepon kamu. Rutinitas mereka berubah drastis dan nggak semua orang tua bisa langsung menyesuaikan diri.

Kalau kamu punya adik yang masih di rumah, tanya deh gimana kondisi orang tua. Kadang mereka nggak cerita langsung ke kamu karena nggak mau ngeganggu. Tapi dari adik atau saudara, kamu bisa tau kalau ibu akhir-akhir ini sering murung, atau bapak jadi lebih pendiam.

Dari situ, kamu bisa mulai lebih peka. Nggak perlu langsung pulang tiap minggu, tapi setidaknya tingkatkan intensitas komunikasi. Video call yang tadinya sebulan sekali, jadiin dua minggu sekali. Kecil, tapi dampaknya besar.

5. Marah atau Kesal Kalau Ditanya Terlalu Detail

Kita semua pernah ngerasain ini. Lagi capek banget abis ujian, tiba-tiba ibu nelpon dan nanya "Tadi ngapain aja? Sama siapa? Makan apa? Kok suaranya kayak habis nangis?" dan kita langsung naik darah. Jawabannya jadi ketus, nada bicara jadi tinggi, dan telepon ditutup dengan perasaan bersalah.

Padahal kalau dipikir-pikir, pertanyaan mereka bukan buat nyiksa kita. Itu cara mereka nunjukin sayang. Mereka nggak punya cara lain buat tetap terlibat dalam hidup kita yang udah jauh dari jangkauan mereka.

Kalau memang lagi capek, nggak apa-apa bilang dengan jujur. "Bu, aku capek banget hari ini, besok aku telpon lagi ya, cerita lengkapnya." Orang tua bakal ngerti. Yang penting jangan diam-diam kesel dan ngasih jawaban satu kata sepanjang telepon. Itu yang bikin mereka sedih.

Belajar komunikasi yang sehat dari jauh

Komunikasi jarak jauh itu butuh usaha dari dua sisi. Tapi sebagai anak, kita punya tanggung jawab lebih buat inisiatif, karena kita yang memilih merantau. Bukan berarti kita harus selalu ngikutin maunya orang tua, tapi setidaknya kita bisa hadir secara emosional walau raga kita jauh.

Nggak ada rumus pasti. Ada orang tua yang suka telepon tiap hari, ada yang cukup di-chat seminggu sekali. Kenali pola orang tua kamu dan cari titik tengah yang nyaman buat dua belah pihak.

Yang jelas, hubungan keluarga itu bukan sesuatu yang bisa ditinggalin terus jalan sendiri. Dia butuh dirawat, disiram, dan diperhatiin. Sama kayak tanaman di kos kamu yang mati karena nggak pernah disiram — hubungan keluarga juga bisa layu kalau nggak dijaga.

Jadi, mulai dari sekarang. Bales chat ibu yang masih nangkring di notifikasi kamu. Telpon bapak yang udah seminggu nggak ngobrol. Nggak perlu nunggu momen spesial atau tanggal cantik. Hari biasa juga cukup kok buat bilang "aku kangen rumah".

Tags: anak kos keluarga parenting mahasiswa perantau komunikasi

Baca Juga: Play Station Yuri