Sabtu, 7 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkpontianak.orgbrkpontianak.org
brkpontianak.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sebulan Coba Telepon Ibu Tiap Hari, Ini yang Berub...

Sebulan Coba Telepon Ibu Tiap Hari, Ini yang Berubah

Sebulan coba telepon ibu setiap hari tanpa alasan penting. Ternyata ini yang berubah buat anak rantau yang jauh dari rumah.

Sebulan Coba Telepon Ibu Tiap Hari, Ini yang Berubah

Gue mau cerita soal eksperimen kecil yang awalnya kelihatan sepele. Selama sebulan penuh, gue maksa diri buat menelepon ibu tiap hari. Bukan chat, bukan voice note singkat, tapi telepon beneran. Awalnya gue pikir ini bakal jadi beban. Ternyata hasilnya di luar dugaan.

Sebagai mahasiswa rantau, gue dulu termasuk anak yang sok sibuk. Kuliah, organisasi, kerja kelompok, nongkrong. Komunikasi sama rumah biasanya cuma lewat transferan bulanan dan chat singkat "udah makan belum". Kalau ibu telepon, gue sering nunda buat nelpon balik karena "nanti aja pas senggang". Ujung-ujungnya nggak pernah nelpon balik.

Baca juga: Siapkan Tiga Menit Sebelum Terbang: Cara Nakal Tetap Dekat dengan Anak

Kenapa Gue Nekat Coba Selama Sebulan

Pemicunya sederhana. Waktu gue pulang semester lalu, gue sadar ibu gue ngobrol sama tetangga soal anaknya yang lain dengan mata berbinar. Bukan iri, tapi ada rasa nyesek. Gue tinggal jauh, jarang cerita, dan tiap ditanya cuma jawab "baik kok". Padahal ibu pasti pengen tahu lebih dari itu.

Jadi gue bikin aturan main sendiri. Tiap malam jam sembilan, telepon ibu minimal lima menit. Nggak harus bahas hal berat. Kadang cuma nanya masakan, kadang cerita dosen yang bikin kesel. Yang penting telepon.

Hari pertama canggung banget. Ibu malah nanya, "Kamu kenapa? Ada masalah?" karena gue biasanya jarang nelpon. Gue ketawa, bilang cuma kangen. Percakapan pertama cuma delapan menit dan isinya setengahnya soal cuaca.

Yang Berubah di Minggu Pertama Sampai Ketiga

Memasuki hari kelima, obrolan mulai cair. Ibu berhenti nanya "ada masalah ya?" dan mulai cerita hal-hal random di rumah. Kucing tetangga yang masuk dapur, tanaman cabe yang berbuah, sampai gosip arisan yang bikin gue ngakak.

Gue juga jadi lebih terbuka. Awalnya gue cuma dengerin, lama-lama gue mulai cerita soal hal kecil di kampus. Ternyata enak juga punya tempat cerita yang nggak bakal nge-judge kamu kayak temen sekosan.

Ada satu malam ibu bilang, "Ibu seneng kamu sekarang sering telepon. Dulu ibu takut ganggu." Kalimat itu nempel banget di kepala gue.

Di minggu ketiga, gue sadar ada perubahan di cara gue ngobrol. Gue jadi lebih sabar dengerin, nggak buru-buru pengen nutup telepon. Padahal dulu gue tipe yang ngobrol sambil main HP.

Efek yang Nggak Gue Duga

Yang paling kaget: gue jadi lebih tenang. Ada semacam rasa aman karena tahu di rumah ada orang yang peduli sama hari-hari gue. Homesick yang biasanya muncul tiap malam minggu pelan-pelan berkurang.

Ibu juga berubah. Dia mulai nggak nanya "kapan pulang" tiap telepon, karena sekarang dia punya bahan obrolan lain. Hubungan kami jadi lebih kayak temen, bukan sekadar anak-ibu yang cuma ketemu pas lebaran.

Yang Perlu Kamu Tahu Kalau Mau Coba

Eksperimen ini nggak selalu mulus. Ada hari-hari gue capek banget dan pengen langsung tidur. Ada juga hari ibu lagi sibuk dan telepon cuma tiga menit. Tapi justru di situ poinnya: konsistensi lebih penting daripada durasi.

Beberapa hal yang gue pelajari:

  • Jangan tunggu ada kabar penting. Justru obrolan receh yang bikin hubungan terasa hidup.
  • Telepon, jangan cuma chat. Suara ibu itu beda rasanya, apalagi kalau lagi ketawa.
  • Kasih waktu yang jelas. Gue pilih jam sembilan karena ibu biasanya udah santai di rumah.
  • Jangan paksaan. Kalau memang nggak sempat, telepon besok. Yang penting jangan hilang dari kebiasaan.

Gue nggak nyangka hal sesederhana menelepon tiap hari bisa ngubah banyak hal. Bukan cuma hubungan sama ibu, tapi juga cara gue memandang keluarga. Ternyata kedekatan itu nggak butuh momen besar. Cukup lima menit tiap malam, konsisten, dan niat buat benar-benar dengerin.

Buat kamu yang juga ngerantau, coba deh sebulan aja. Nggak perlu nunggu kangen berat atau ada masalah. Telepon aja, tanya masakan hari ini. Siapa tahu kamu nemu versi hubungan keluarga yang lebih hangat, kayak yang gue rasain.

Tags: anak rantau hubungan keluarga komunikasi keluarga mahasiswa jarak jauh