Kamis, 22 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkpontianak.orgbrkpontianak.org
brkpontianak.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Sore di Halaman Rumah, Ayah Ajari Anak Bercoc...

Tiap Sore di Halaman Rumah, Ayah Ajari Anak Bercocok Tanam

Cerita seorang ayah di desa yang mengajari anaknya berkebun tiap sore. Ternyata bukan cuma soal tanaman, tapi soal ikatan keluarga.

Tiap Sore di Halaman Rumah, Ayah Ajari Anak Bercocok Tanam

Pak Slamet itu tetangga saya di kampung. Rumahnya persis di seberang jalan, pagarnya rendah, dan tiap sore saya selalu lihat pemandangan yang sama: dia dan anak bungsunya, Raka, jongkok di tanah belakang rumah sambil main lumpur. Raka baru kelas tiga SD. Tangannya kotor, lututnya belepotan, tapi mulutnya nggak pernah berhenti nanya.

Suatu hari saya iseng mampir. Ternyata mereka bukan sekadar main tanah. Pak Slamet lagi ngajarin Raka menanam kangkung di bedeng kecil. Ada potongan paralon, ada bibit dari batang kangkung yang dibeli di pasar pagi.

Baca juga: Pensiun: Fokus ke Cucu atau Nikmati Masa Sendiri?

"Ini caranya, Nak. Batangnya dipotong, terus ditancepin ke tanah. Nanti seminggu juga udah ijo," kata Pak Slamet sambil nunjukin. Raka ngangguk-ngangguk, tangannya udah nyamber batang kangkung berikutnya sebelum ayahnya selesai ngomong.

Saya nggak nyangka aja. Di kampung kayak gini, yang biasanya saya lihat orang tua sibuk sendiri, ternyata ada juga yang sengaja nyempetin waktu buat hal sesederhana ini. Dan dari situ saya mulai kepikiran banyak hal soal ngasuh anak di desa.

Kenapa Justru di Kampung, Waktu Itu Malah Susah Dicari

Kedengarannya aneh, ya. Di kota orang sibuk kerja, di kampung harusnya waktu lebih longgar. Tapi kenyataannya nggak gitu selalu.

Banyak bapak di desa kita kerja di sawah, di kebun, atau jadi buruh bangunan yang berangkat subuh pulang magrib. Ibunya jualan di pasar, buka warung, atau ngurus sawah juga. Sore datang, badan udah capek, kepala penuh pikiran soal harga pupuk atau utang di kios. Anak? Ya udah, main sendiri aja sama temen-temennya.

Saya bukan mau nyalahin siapa-siapa. Ini realita. Tapi justru karena itu, apa yang dilakukan Pak Slamet tiap sore itu terasa istimewa. Bukan karena dia punya banyak waktu luang, tapi karena dia memilih pakai waktunya buat hal itu.

Dan yang menarik, kegiatan mereka nggak muluk-muluk. Nggak perlu les mahal, nggak perlu jalan-jalan ke mall yang di kampung juga nggak ada. Cuma tanah, bibit, dan waktu setengah jam.

Yang Sebenarnya Sedang Diajarkan, Bukan Cuma Soal Tanaman

Kalau kamu lihat sekilas, ya cuma nanam kangkung. Tapi coba perhatiin lebih lama, ada banyak hal yang sebenarnya lagi dipindahin dari ayah ke anak.

Pertama, soal sabar. Kangkung nggak tumbuh dalam sehari. Raka harus nunggu, nyiram tiap sore, dan kadang kecewa karena ada ulat atau daunnya dimakan ayam. Dari situ dia belajar bahwa hasil itu butuh proses. Sesuatu yang makin langka di zaman serba cepat sekarang.

Kedua, soal tanggung jawab. Pak Slamet bilang ke Raka, "Ini tanaman kamu. Kalau kamu nggak nyiram, ya mati. Ayah cuma bantu kalau kamu lupa." Kalimat sederhana, tapi nempel. Raka jadi tahu bahwa ada makhluk hidup yang bergantung sama perhatiannya.

Ketiga — dan ini yang paling saya rasakan — soal rasa punya. Anak yang terlibat langsung dalam sesuatu biasanya lebih menghargai. Raka yang dulu suka buang-buang sayur di piring, sekarang malah bangga kalau kangkung hasil tanamannya sendiri yang dimasak ibu di rumah. Dia makan sampai habis, sambil cerita ke semua orang.

"Anak itu nggak butuh orang tua yang sempurna. Dia cuma butuh orang tua yang hadir, walau sebentar."

Cara Praktis buat Kamu yang Mau Coba di Rumah

Nah, ini bagian yang mungkin kamu tunggu. Gimana caranya mulai, terutama buat kamu yang tinggal di kampung atau kota kecil dengan pekarangan terbatas?

Mulai dari yang paling gampang dan murah

Nggak perlu langsung bikin kebun besar. Coba mulai dari pot bekas, ember bocor, atau polybag. Tanamannya juga pilih yang nggak rewel: kangkung, sawi, cabai, atau tomat ceri. Bibitnya bisa dari sisa dapur, kok. Cabai dari dapur tinggal ambil bijinya, jemur sebentar, tanam.

Yang penting bukan hasil panennya. Yang penting prosesnya dinikmati bareng anak.

Tentukan waktu yang konsisten, walau cuma 15 menit

Ini kunci dari cerita Pak Slamet tadi. Dia nggak meluangkan waktu dua jam tiap hari — dia cuma konsisten di jam yang sama tiap sore, sekitar pukul empat sampai setengah lima. Anak jadi punya patokan: "Oh, sore ini waktunya sama Ayah."

Kamu bisa pilih waktu lain. Habis magrib, sebelum tidur, atau pagi sebelum berangkat sekolah. Yang penting rutin. Anak kecil itu belajar dari pengulangan, bukan dari ceramah panjang.

Biarkan anak kotor dan salah

Ini yang sering bikin orang tua di kampung kita mundur. Takut anak kotor, takut sakit, takut baju susah dicuci. Padahal justru dari kotor dan salah itu anak belajar.

Kalau Raka menanam terlalu dalam dan bibitnya nggak tumbuh, Pak Slamet nggak marah. Dia cuma bilang, "Ya udah, coba lagi besok, kali ini lebih dangkal." Sesederhana itu. Nggak ada drama, nggak ada omelan panjang.

Ajak ngobrol, bukan cuma instruksi

Ini yang saya paling suka dari cara Pak Slamet. Selama berkebun, dia banyak nanya ke Raka. "Kenapa ya tanahnya harus gembur?" "Kalau nggak ada air hujan, gimana?" Raka jawab sebisanya, kadang ngawur, dan mereka ketawa bareng.

Dari obrolan ringan itu, anak merasa pendapatnya dihargai. Ini yang bikin anak betah dan mau ikut lagi besok-besok. Bukan karena disuruh, tapi karena merasa dilibatkan.

Buat yang Nggak Punya Pekarangan

Tenang, kamu yang rumahnya nempel tetangga atau nggak punya tanah sama sekali tetap bisa kok. Gantung pot di tembok, taruh di teras, atau pakai rak kayu sederhana di depan rumah. Kalau benar-benar nggak ada tempat, ajak anak ke kebun tetangga atau ikut kegiatan karang taruna yang nanam di tanah desa.

Intinya bukan soal tempatnya. Intinya soal kebiasaan kecil yang kamu bangun bareng anak, tiap hari, tanpa banyak alasan buat nunda.

Pak Slamet pernah bilang ke saya, sambil nyiram bedeng kangkungnya: "Saya nggak ngerti cara bikin anak pinter. Tapi saya tahu cara bikin anak inget rumah."

Kalimat itu nempel di kepala saya sampai sekarang. Mungkin karena sesederhana itu memang jawabannya. Bukan gadget mahal, bukan les sana-sini. Cuma waktu, perhatian, dan kemauan buat hadir — walau cuma setengah jam tiap sore di halaman belakang.

Tags: mengasuh anak hubungan keluarga berkebun bersama anak pola asuh desa quality time keluarga